Batu Bara ICE Newcastle Turun Setelah Dibuka di 141,50, BUMN akan Jadi Eksportir Tunggal SDA Indonesia

  • Batu Bara ICE Newcastle kesulitan memanfaatkan gap atas pembukaan.
  • Presiden Trump mengancam menyerang Iran.
  • Pemerintah Indonesia akan menunjuk BUMN untuk menjadi eksportir tunggal sumber daya alam.

Batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 140,50 yang lebih tinggi 0,79% dibandingkan penutupan hari kemarin pada saat berita ini ditulis. Batu bara ini dibuka dengan gap atas di 141,50 dan setelah itu merayap turun ke level-level saat ini, sebuah perilaku yang mirip dengan hari kemarin.

Meskipun harga batu bara turun dari level pembukaan, Relative Strength Index (RSI) 14-hari merayap naik ke 60,76 mengindikasikan momentum bullish semakin tumbuh dari level netral 50. Simple Moving Average (SMA) 200-hari yang bergerak naik mengukuhkan tren bullish jangka lebih panjang.

Suhu di pelabuhan Newcastle Australia sekitar 15°C pada saat berita ini ditulis dan diprakirakan cerah hingga malam. Dengan demikian, faktor cuaca tidak akan menjadi pendorong yang bisa menggerakkan harga karena baik proses pemuatan batu bara serta lalu lintas di pelabuhan diprakirakan lancar, sehingga pengiriman batu bara akan sesuai jadwal.

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengancam menyerang Iran dalam dua atau tiga hari sebagai cara untuk mendorong negara tersebut meraih kesepakatan untuk mengakhiri perang, seperti dilaporkan Bloomberg kemarin.

Presiden Trump berharap tidak terjadi perang tapi dia mungkin perlu memberikan pukulan yang besar lagi. Dia mengatakan, "Yah, maksud saya, Saya bilang dua atau tiga hari, mungkin Jumat, Sabtu, Minggu. Mungkin awal minggu depan – dalam periode waktu terbatas,".

Konflik yang tidak berkesudahan yang mengakibatkan penutupan Selat Hormuz ini sangat mengganggu distribusi komoditas-komoditas yang melewati selat tersebut seperti minyak dan gas alam. Pada akhirnya meningkatkan kelangkaan yang berimbas pada kenaikan harga tidak hanya pada minyak dan gas alam tetapi juga pada komoditas-komoditas alternatif gas untuk pembangkit listrik seperti batu bara yang permintaannya menjadi meningkat.

Meskipun sesekali ada kabar baik dari Timur Tengah, itu belum bisa membuat harga komoditas-komoditas energi untuk kembali turun ke level-level pra-perang. Penguatan Dolar AS juga menjadi perhatian yang membuat komoditas-komoditas berdenominasi USD jadi lebih mahal bagi para pembeli asing. Spot Indeks Dolar berada di area 99,41 pada saat berita ini ditulis, setelah mencatatkan tertinggi baru bulanan di 99,47 sebelumnya hari ini.

Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode kedua Mei 2026 dalam Kepmen ESDM No. 204.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $116,32 naik dari $106,57
  • Batubara I (5.300 GAR) $80,34 naik dari $79,56
  • Batubara II (4.100 GAR) $57,61 naik dari $55,66
  • Batubara III (3.400 GAR) $39,35 naik dari $38,76

Dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-19 masa persidangan V sidang 2025-2026, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menginformasikan Peraturan Pemerintah soal Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam (SDA).

Jadi, pemerintah akan menunjuk BUMN (Badan Usaha Milik Negara) untuk menjadi pengekspor tunggal SDA. Perusahaan-perusahaan harus mengalihkan transaksinya ke BUMN dan BUMN harus transaksi dan kontrak dengan semua pembeli di luar negeri. Hasil penjualan dari ekspornya akan diserahkan kepada para pelaku usaha. Beberapa tujuan dari peraturan ini adalah memperkuat pengawasan dan menghilangkan praktik kurang bayar serta pelarian devisa hasil ekspor. Diharapkan kebijakan ini dapat mengoptimalkan penerimaan pajak dan penerimaan negara.

Tiga komoditas pertama yang akan menghadapi kebijakan ini adalah minyak kelapa sawit, batu bara, dan paduan besi. Tahap satu dimulai pada 1 Juni sampai dengan 31 Agustus 2026 dan tahap dua pada 1 September 2026.

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.

Harga Perak Hari ini: Perak Naik, Menurut Data FXStreet

Harga Perak (XAG/USD) naik pada hari Rabu, menurut data FXStreet. Perak diperdagangkan pada $75,29 per troy ons, naik 2,15% dari $73,70 pada hari Selasa
了解更多 Previous

Dolar AS: Momentum imbal hasil didukung oleh sinyal FOMC – MUFG

Derek Halpenny dari MUFG berpendapat bahwa penguatan Dolar AS didukung oleh kenaikan imbal hasil AS dan pergeseran hawkish dari Federal Reserve. Dia memprakirakan risalah rapat FOMC akan memperkuat kekhawatiran inflasi dan membatasi ekspektasi dovish.
了解更多 Next