USD/IDR Melambung, Seret Rupiah Hingga ke 15.654, Tunggu Keputusan Suku Bunga BI dan The Fed pada Hari Rabu

  • Rupiah terseret hingga ke level 15.654 pada awal perdagangan pekan ini.
  • Para pedagang akan mewaspadai keputusan suku bunga BI, suku bunga dan dot plot The Fed yang dirilis pada hari Rabu ini.
  • Penguatan yang berlanjut bisa membawa USD/IDR ke puncak 21 Februari di 15.679.

USD/IDR melambung jauh ke 15.654 atau naik 0,42% untuk mengawali pekan ini. Dolar AS yang di ukur oleh Indeks Dolar AS (DXY) yang masih bertengger di atas level 103, mendukung kenaikan pasangan mata uang ini. Dolar AS terus menguat karena adanya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan tetap mempertahankan suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama akibat data-data inflasi AS yang masih tinggi. Pasar sekarang mengharapkan pemangkasan suku bunga The Fed akan dilakukan di sekitar bulan Juni atau Juli.

Para ekonom ING menyampaikan dalam artikelnya, "Kami baru-baru ini menekankan risiko kenaikan terhadap Dolar mengingat posisi imbal hasil yang mendasarinya masih kuat, dan kami akhirnya mengamati beberapa aksi beli USD secara keseluruhan. Beberapa hari mendatang akan memberi tahu kita di mana posisi pasar Valas dalam spektrum kejutan hawkish-dovish untuk pertemuan The Fed."

Menurut para analis tersebut, risiko kenaikan utama bagi Dolar adalah revisi yang lebih tinggi dalam dot plot. The Fed akan terus menekankan pentingnya peran rilis data mendatang, yang secara umum diprakirakan mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan. 

Pada hari Rabu, 20 Maret, Bank Indonesia (BI) akan merilis keputusan suku bunga. BI telah menahan suku bunganya di tingkat 6% sejak Oktober 2023. Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, suku bunga akan ditahan di 6% sampai ada ruang untuk pemangkasan di Semester 2-2024, dengan menahan suku bunga di level itu, BI mengharapkan stabilitas ekonomi terjaga dan inflasi tetap berada dalam kisaran targetnya di 1,5%-3,5% pada tahun 2024. Melalui kebijakan suku bunga BI di level tinggi, ada kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran dan pengembangan pasar keuangan yang diarahkan untuk menopang pertumbuhan perekonomian di atas 5% tahun ini sampai 2025.

Namun, daya beli konsumen di Indonesia akan melemah dan terjadi perlambatan konsumsi, menurut Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti dalam acara detikcom Leaders Forum bertajuk "Memantau Peluang di Tengah Ketidakpastian Ekonomi", pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 diprakirakan akan berada di bawah 5% kurang dari target pemerintah yang berada di 5,2%. Pertumbuhan perekonomian nasional sebagian besar ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Sementara terjadi kekurangan pasokan pangan dari sisi konsumsi rumah tangga pada tahun 2024 karena impor yang belum sepenuhnya terealisasi dan produksi beras belum mencapai puncaknya. Faktor-faktor tersebut menyebabkan peningkatan permintaan bahan pangan, yang mengakibatkan harga-harga melambung, terutama ketika pasokan berkurang, belum lagi dengan adanya faktor musiman seperti pemilu, Ramadhan dan Idul Fitri.

Fokus para pedagang akan tertuju pada rilis keputusan suku bunga BI dan The Fed, proyeksi ekonomi FOMC dan beberapa Proyeksi Suku Bunga dari The Fed di pertengahan minggu ini. Proyeksi ekonomi FOMC akan dicermati untuk mengetahui pembaruan "dot plot" The Fed. Pasar mengharapkan dot plot The Fed akan menunjukkan tiga kali pemangkasan untuk tahun 2024.

Analisis USD/IDR: Berpeluang Menyentuh Puncak 21 Februari di 15.679

Pada grafik harian, terlihat bahwa Dolar AS (USD) telah menyeret Rupiah Indonesia (IDR) ke level 15.654, setelah Jumat pekan lalu USD/IDR melakukan pullback dan ditutup di 15.589. Pasangan mata uang ini melanjutkan penguatannya sejak harga memantul dari level Fibonacci Retracement 61,8% di 15.557, yang sejauh ini telah di sentuh sebanyak dua kali pada 15 Februari dan 13 Maret. Penguatan yang terus berlangsung kemungkinan bisa membawa pasangan mata uang ini menuju ke puncak 21 Februari di 15.679, dan bisa berlanjut ke tertinggi 13 November di 15.724. Sebaliknya, kegagalan untuk menembus dan menutup di atas level Fibonacci Retracement 38,2% di 15.667 akan memungkinkan pasangan mata uang ini kembali turun ke sekitar support dinamis yang ditunjukkan oleh Simple Moving Average (SMA) 50 di 15.596 sebelum ke level Fibonacci Retracement 61,8% di 15.557.

Grafik Harian USD/IDR:

Level-Level Teknis USD/IDR

Tinjauan
Harga terakhir hari ini 15660
Perubahan harian hari ini 13.4500
Perubahan harian hari ini % 0.09
Pembukaan harian hari ini 15646.55
 
Tren
SMA 20 Harian 15637.9825
SMA 50 Harian 15650.269
SMA 100 Harian 15597.272
SMA 200 Harian 15446.6618
 
Level
Tinggi Harian Sebelumnya 15648
Rendah Harian Sebelumnya 15582
Tinggi Mingguan Sebelumnya 15648
Rendah Mingguan Sebelumnya 15427.2
Tinggi Bulanan Sebelumnya 15807.85
Rendah Bulanan Sebelumnya 14488.65
Fibonacci Harian 38,2% 15622.788
Fibonacci Harian 61,8% 15607.212
Pivot Point Harian S1 15603.0333
Pivot Point Harian S2 15559.5167
Pivot Point Harian S3 15537.0333
Pivot Point Harian R1 15669.0333
Pivot Point Harian R2 15691.5167
Pivot Point Harian R3 15735.0333

 

 

GBP/USD Berkonsolidasi di Sekitar 1,2730 karena Pasar Berhati-hati Menjelang Keputusan The Fed

GBP/USD tampak membalik penurunan yang dimulai pada hari Kamis, melayang di sekitar 1,2730 selama sesi Asia pada hari Senin. Namun, pasangan mata uang ini menghadapi kemunduran di tengah-tengah kehati-hatian pasar sebelum keputusan suku bunga Federal Reserve AS pada hari Rabu.
Đọc thêm Previous

WTI Melanjutkan Kenaikan Beruntun di Tengah Meningkatnya Kekhawatiran atas Pasokan, Naik ke $80,90

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melanjutkan kenaikannya, mencapai sekitar $80,90 per barel selama jam perdagangan Asia pada hari Senin. Harga minyak mentah mendapatkan momentum positif yang didorong oleh kekhawatiran atas gangguan pasokan yang berasal dari meningkatnya risiko geopolitik.
Đọc thêm Next