AUD/JPY Bergerak Menuju 89,00 Jelang Inflasi Tiongkok dan Ketenagakerjaan Australia
- AUD/JPY mendekati 89,00 karena BoJ Ueda telah mendukung kelanjutan kebijakan ekspansif.
- Akselerasi dalam angka inflasi Tiongkok akan meningkatkan harapan terhadap pemulihan ekonomi di Tiongkok.
- Suku bunga yang lebih tinggi dari RBA diprakirakan akan melemahkan Ketenagakerjaan Australia.
Pasangan AUD/JPY bertujuan untuk menangkap resistance penting dai 89,00 di sesi Asia. Barometer risiko ini meningkat secara signifikan sejak hari Senin setelah Bank of Japan (BoJ) mendukung kelanjutan kebijakan moneter ultra-longgar selama satu dekade untuk melindungi ekonomi Jepang dari dampak perlambatan global.
Mempertimbangkan optimisme dalam AUD/USD, pasangan AUD/JPY mengikuti jejak tersebut. Dolar Australia kemungkinan akan tetap bergejolak menjelang rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) Tiongkok. Sesuai prakiraan, angka inflasi tahunan akan tetap stabil di 1%. Angka IHK bulanan diprakirakan akan meningkat 0,1% dibandingkan deflasi 0,5% yang tercatat di bulan Februari.
Hal ini memberikan harapan untuk pemulihan ekonomi di Tiongkok karena para investor kehilangan kepercayaan pada prospek ekonomi Tiongkok meskipun ada pembongkaran kontrol pandemi. Pemulihan permintaan ritel juga akan menanamkan kepercayaan diri di antara perusahaan-perusahaan untuk mengerahkan lebih banyak kapasitas produksi. Para investor harus menyadari fakta bahwa Australia adalah mitra dagang utama Tiongkok dan pemulihan di Tiongkok juga akan memperkuat Dolar Australia.
Akhir minggu ini, data Ketenagakerjaan Australia akan diawasi dengan ketat. Menurut prakiraan, ekonomi Australia menambahkan 20 Ribu lapangan pekerjaan baru pada bulan Maret lebih rendah dari rilis sebelumnya sebesar 64,6 Ribu. Selain itu, Tingkat Pengangguran akan meningkat menjadi 3,6% dari rilis sebelumnya 3,5%. Sepertinya suku bunga yang lebih tinggi dari Reserve Bank of Australia (RBA) melemahkan permintaan tenaga kerja. Gubernur RBA Philip Lowe telah berkomentar bahwa ekonomi Australia akan melambat lebih lanjut karena suku bunga yang lebih tinggi dan inflasi akan melunak lebih lanjut.
Sementara itu, "Bendahara Australia Jim Chalmers memperingatkan kondisi ekonomi global yang 'kompleks dan penuh tantangan' saat ia bersiap menuju Washington untuk menghadiri pertemuan G20, seperti yang dilansir oleh Bloomberg.